Tuesday, 7 June 2016

Book Review | Dear Nathan by Erisca Febriani

Judul Buku : Dear Nathan
Penulis : Erisca Febriani
Penerbit : Best Media
Penyunting : Maskur Priatna
Pemeriksa Aksara : Rahmia Mn
Desain Sampul : Rumah Desain
Penata Isi : Rumah Desain
Jumlah Halaman : 528 hlm
Cetakan Kedua : April 2016
Tahun Terbit : 2016
ISBN : 978-602-6940-14-8
Harga Buku : IDR. 99.000 (di Bukupedia.com)

Rating : 3 of 5




Book Sinopsis :


Berawal dari keterlambatan mengikuti upacara pertama di sekolah baru, Salma Alvira bertemu dengan seorang cowok yang membantunya menyelusup lewat gerbang samping. Selidik punya selidik, cowok itu ternyata bernama Nathan; murid nakal yang sering jadi bahan gosip anak satu sekolah.

Beberapa rangkaian kejadian pun terjadi, yang justru mengantarkan Salma untuk menjadi kian lebih dekat dengan Nathan. Dua kepribadian yang saling bertolak belakang, seperti langit dan bumi; yang tidak bisa bersatu tapi saling melengkapi.

Novel ini mengisahkan tentang masa indah putih abu-abu, persahabatan, pelajaran kehidupan, dan pentingnya untuk selalu menghargai perasaan.

------------------
Book Review :


Salma Alvira. Murid pindahan dari Bandung, karena mengikuti ayahnya dimutasi ke Jakarta yang akhirnya membuat Salma harus ikut pindah sekolah. Dan pilihannya jatuh ke sekolah SMA Garuda yang termasuk salah satu sekolah favorit di Jakarta. Di sekolahnya dulu rata-rata anak lakinya kalem dan tidak banyak ulah. Kebanyakan di kelasnya adalah murid kutubuku dan berkaca mata. Nah, kalau di SMA-nya sekarang kebalikan dari SMA-nya dulu. Bersahabat dengan Rahma, Orlin, Meysha dan juga Afifah yang kebetulan satu kelas dengan Nathan dan menggosipkan segala hal keburukan yang dilakukan Nathan di kelasnya membuat Salma mengenal sosok Nathan secara keseluruhan kenakalannya di sekolah walaupun belum mengenal sosok Nathan secara nyata. Tapi semua informasi yang di dapat Salma membuatnya tidak percaya dengan sosok Nathan yang menolongnya pertama kali saat Salma telat ke sekolah.

Nathan Januar Prasetyo. Kesan pertama mendengar namanya pasti yang terngiang adalah cowok cool, keren, ganteng. Tapi siapa yang sangka di balik kegantengan namanya itu Nathan adalah seorang cowok remaja pada umumnya yang berandal yang suka menjahili temannya. Berteman dengan anak-anak rusuh kelas tiga; Aditya, Geri, dkk dan lagi ketika MOS Nathan pernah melawan ketua OSIS, Aldo membuatnya semakin popular di sekolah, bukan populer karena prestasi, tapi sifatnya yang bebal dan berandalan.

Berawal dari keterlambatan mengikuti upacara pertama di sekolah baru, Salma  bertemu dengan seorang cowok yang berpenampilan urakan -tipikal siswa yang sering melanggar aturan sekolah- yang membantunya menyelusup lewat gerbang samping. Selidik punya selidik, cowok itu ternyata bernama Nathan; murid nakal ‘LuarBiasa’ yang sering jadi bahan gosip anak satu sekolah. Beberapa kejadian pun terjadi, yang justru mengantarkan Salma untuk menjadi kian lebih dekat dengan Nathan.

Beberapa rangkaian kejadian pun terjadi, yang justru mengantarkan Salma untuk menjadi kian lebih dekat dengan Nathan. Dua kepribadian yang saling bertolak belakang, seperti langit dan bumi. Belum lagi Rahma yang notebene-nya sahabat Salma malah menjadi sumberi informasi bagi Nathan terkait Salma. Salma yang polos dan belum mengenal sosok berandal seperti Nathan selalu ketakutan dan wajahnya langsung pucat-pias kalau berada dekat dengan Nathan dan geng rusuhnya. Karena bagi Salma cowok keren dan idaman itu seperti sang ketua OSIS, uda keren, ganteng, pintar baik, sopan, dan menjadi kesayangan guru. Tapi semua itu berubah ketika tau seperti apa sebenarnya Aldo saat ia memergoki Aldo sedang melakukan sesuatu yang sangat tak di percayainya bakal di lakuin oleh seorang Aldo.

Kedekatan Nathan dan Salma berjalan lancar dan baik-baik saja hingga tiba-tiba muncul seseorang di masa lalu Nathan dan sahabatnya yang mengetahui semuanya tentang Nathan dan keluarganya. Di banding Salma yang tidak tahu apa-apa. Belum lagi masalah keluarga Nathan yang ternyata sangat pelik yang baru di ketahui Salma. Yang semakin membuatnya seakan jauh dari Nathan. Apa yang terjadi dengan Nathan sebenarnya? Siapa masa lalunya? Dan bagaimana dengan kelanjutan hubungan mereka?


Penasaran dengan kelanjutan kisah antara Salma dan Nathan??  Langsung capcuss dehh untuk membaca Dear Nathan.

***
Dear Nathan. Novel fenomenal yang masuk ke dalam jajaran novel bestseller di toko buku hanya dalam satu bulan (waktu aku beli masih Bestseller, sekarang udah masuk ke Mega-BestSeller *takjub* kok bisa?). Novel pertama lahiran dari Wattpad yang aku baca dalam bentuk versi cetak. Sebenarnya aku udah ikutin cerita ini di Wattpad, dan untuk viewersnya di wattpad itu luar biasa membludak. (Dan untuk versi wattpad dan cetaknya menurutku tidak ada perubahan sama sekali kecuali ada beberapa teman Nathan dan Salma yang di ganti namanya, selain itu masih sama dengan versi wattpad). Sehingga tak heran kalau tiba-tiba ada penerbit yang ngelirik ini cerita. Dan juga… beberapa hari ke belakang ini suasanan juga agak memanas (biasalahh tanggapan di dunia penulisan dan penerbitan ada yang negative + positif.), eitsss.. jangan salah di dunia perbukuan dan penulisan juga ada lohh haters-nya, memangnya dunia keartisan aja yang ada haters. Heheheh…

Membaca novel ini sebenarya sangat membuat aku terhibur banget dengan alur ceritanya (kalau di baca dengan cara tutup mata tanpa memandang typo sana-sini + halaman yang jungkir balik *nah loohh?? Gimana cara bacanya (?). Membuat isi kepalaku bernostalgia kembali ke masa putih abu-abu J. Berbagai macam/jenis kelakuan ‘luar biasa’ yang ada secara keseluruhan hampir sama dengan apa yang pernah aku alamin (walaupun di cerita ini kayaknya kelakuannya memang di luar akal *menurutku*). Apalagi jenis kenakalan si Nathan dan geng rusuhnya, hmmm.. itu anak memang ajaib banget. Sampe-sampe guru hamilpun  jadi bahan buly-annya.

Untuk karakter favoritnya, secara keseluruhan aku menyukai semua tokohnya dalam perannya masing-masing. Seperti sosok Nathan, walaupun ‘nakal’nya luar biasa sampe akunya geleng-geleng kepala, tapi Nathan sangat menghormati dan menjunjung tinggi seorang perempuan (salut banget dengan sosok Nathan). Siapa sangka penampakanya yang playboy ternyata Nathan baru pacaran sekali, dan itupun ia ditinggalkan. Untuk Salma aku salut sama dia. Walaupun ia didekati oleh seorang Nathan tidak membuatnya terpengaruh dan ia tetap menjadi dirinya sendiri. Karena kalau di zaman aku sekolah dulu cewek yang di taksir atau lagi di dekati oleh cowok ganteng + populer pasti merubah penampilannya agar sebanding dengan pasangannya, tidak malu-maluin, gitu katanya. Dan yang buat aku gregetan Salma ini termasuk cewek yang nggak peka walaupun udah di kasi kode-kodean tetap aja nggak ngehh. Dan yang terakhir, teman-temannya Nathan termasuk geng rusuhnya dan teman-teman Salma sangat mewarnai di dalam ceritanya. Membuat saya gemas sendiri dengan tingkah laku mereka.

Di ceritakan oleh sudut pandang orang ketiga, membuat aku memahami bagaimana karakter Nathan. Seorang anak yang pada umumnya membuat berbagai macam masalah untuk menarik perhatian kedua orang tuanya yang lebih memperhatikan saudara kembarnya. Saat membaca cerita ini apalagi mengenal lebih dalam dengan sosok Nathan membuat kita paham seperti apa citra sebuah keluarga yang seharusnya untuk anak-anak seumuran Nathan yang masih memerlukan kasih sayang dan perhatian keluarga.

Mungkin kekurangan dari buku ini adalah tidak adanya seorang Editor (kebetulan punya aku udah cetakan ke-dua). Dimana seorang editor ini yang akan menyempurnakan sebuah buku sebelum benar-benar di terbitkan oleh penerbit. Dari ejaan Bahasa Indonesianya yang benar, fakta-fakta yang ada di dalam cerita tersebut yang harus benar-benar di sesuaikan dengan apa yang terjadi pada fakta kehidupan kita sehari-hari tidak dilebihkan. Dan sebelum di terbitkan pihak penerbit yang berwenang dan penulis agar meluangkan waktunya untuk mengecek kembali seperti tata letak halaman (karena kebetulan punya aku halamannya jungkir-balik) agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan dari kalangan pembaca. Karena menurutku prioritas pembaca dan kenyamanan dalam membaca sebuah buku itu penting. Jadi tidak timbul pihak-pihak yang dikecewakan setelah membeli sebuah buku. (Oya, disini aku tidak bermaksud untuk menggurui, tapi aku hanya menyarankan, semoga aja bisa di terima dengan baik oleh semua kalangan *peaceee- jangan amuk masa*).

Alur cerita yang ringan, walaupun ada di beberapa bagian dalam penyelesaian konflik tidak ada penyelesaian secara klimaks dengan penjelasan secara tepat (agar tidak menimbulkan pertanyaan kembali oleh pembaca). Nampak seperti terburu-buru ingin menyelesaikan konflik tersebut supaya cepat selesai. Kalau boleh jujur, aku lebih menyukai jalan cerita sebelum menuju tahap ending. Karena setelah sampai di beberapa halaman menuju ending ceritanya seperti di paksakan oleh penulis supaya cepat-cepat END dan SELESAI. Dan juga tentang kebencian Nathan kepada ayahnya tidak di perjelas selain karena kematian Daniel, hingga membuat aku penasaran masalah yang benar-benar parah hingga membuat Nathan sangat membenci sosok ayahnya yang memilih menikah lagi dan meninggalkan sang istri pertama.

Novel ini tidak hanya sekadar menyampaikan sebuah kisah dari kenakalan remaja saja, tapi juga mengajarkan kita akan arti sebuah persahabatan, kekompakan dalam pertemanan tidak saling menyudutkan satu sama lainnya, tapi saling mendukung. Pentingnya sebuah keluarga, dan juga mengajarkan kita bagaimana cara kita untuk menyikapi masa lalu tanpa harus menyalahkan masa lalu tapi belajar dari masa lalu itu sendiri. Dan juga poin pentingnya, tidak memandang seseorang itu karena kelakuan dan kenakalannya. Belum tentu jugakan orang yang kita kirain awalnya sopan, baik ternyata kelakuannya lebih parah dari orang-orang yang kelakuannya luar biasa.

”Orang yang berkelakuan baik di depan, bukan berarti juga dia bakalan berlaku baik sama cewek. Gitu juga sama anak-anak yang kelihatannya nakal, nggak berarti dia bakal memperlakukan cewek-cewek dengan buruk.” (hlm. 202)

Secara keseluruhan novel ini memang sangat cocok di baca oleh kalangan para remaja, tapi tidak ada salahnya juga kalau ada yang kalangan bukan remaja ingin membaca Dear Nathan (seperti aku contohnya), karena menurutku cerita ini selain sisi remajanya juga ada beberapa yang cocok di baca oleh kalangan umum. Dan juga Dear Nathan ini akan di filmkan oleh Rapi Films. Aku berharap saat di filmkan artis-artisnya mampu untuk memerankan tokoh-tokoh yang ada di Dear Nathan ini. Apalagi sosok Nathan, Salma serta geng rusuhnya (semoga artisnya nggak mengecewakan) yang mungkin harus benar-benar memahami karakter dari tokohnya masing-masing.

Bagi kalian yang penasaran dengan buku ini, langsung capcusss ke took-toko buku terdekat di daerah kalian J..

Di dalam buku ini juga terdapat beberapa kutipan yang menjadi favorit aku, dan juga menginspirasi, di antaranya :

*”Perempuan itu kayak kaca, kalau retak ya bakalan retak seumur hidup dan nggak bakal bisa balik kayak semula. Gimana pun caranya.” (hlm. 95)

*”Cowok juga butuh di kasih kepastian, jangan Cuma di kasih harapan tapi ujung-ujungnya di jatuhin.” (hlm. 128)

*”Cowok tuh kalau udah jatuh cinta, semuanya bisa dilakuin. Makanya ada istilah cinta itu buta.” (hlm. 138)

*”Lingkungan itu pondasi yang berpengaruh besar untuk membentuk pribadi seseorang.” (204)

*”Cewek itu takdirnya di kejar, bukan mengejar.” (hlm. 296)

*”Ternyata memang benar, dunia ini seperti roda yang berputar.kadang ada di atas, kadang di bawah. Konsep dualitas; Tuhan menimpakan kesedihan, dan setelahnya dibalas dengan kebahagiaan. Dari seluruh usaha sebenarnya manusia hanya membutuhkan satu jawaban, yaitu …. Bersabar.” (hlm. 518)



2 comments:

  1. review jingga dan senja sama jingga dalam elegi dong

    ReplyDelete
    Replies
    1. novel ketiga belum terbit ^^ oke, ditunggu ya reviewnya

      Delete